facebook google twitter tumblr instagram linkedin
Powered by Blogger.

Social

More Links

  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Rausah Bayar

Sejumlah jenderal aktif di kesatuan TNI dan Kepolisian RI dikabarkan akan mengikuti Pilkada Serentak 2018. Setidaknya ada lima jenderal yang sudah siap berlaga di ajang lima tahunan tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, mengatakan majunya para jenderal aktif itu merupakan fenomena baru di Indonesia. Sebab, menurut dia, selama ini yang maju dalam Pilkada merupakan para jenderal yang sudah pensiun.

“Saat ini partai gagal melakukan kaderisasi, maka menunjuk jenderal aktif yang punya jiwa kepemimpinan dan jaringan.” 
Fenomena tersebut mengkhawatirkan. Sebab, dikhawatirkan terjadi kecurangan dalam pilkada akan lebih merajalela dengan fenomena tersebut. Misalnya munculnya penekanan di daerah-daerah untuk memilih calon tertentu atau tidak dilanjutkannya sengketa pemilihan dari Badan Pengawas Pemilihan Umum oleh Polri.

Semua itu, bisa terjadi karena berpihaknya Polri dan TNI untuk memenangkan bekas prajuritnya dalam Pilkada. “Orientasi partai saat ini hanya kemenangan dan keuntungan saja. Ditambah memegang Polri dan TNI, maka akan lebih marak terjadi politik transaksional,” kata Siti.

Direktur Lembaga Monitor Indonesia Ali Rif’an mengatakan kondisi politik saat ini berbeda dengan kondisi di zaman orde baru.
Saat ini perwira tinggi dari TNI maupun Polri yang ikut dalam kacah perpolitikan memiliki potensi yang sama dengan sipil.
“Gigi politiknya tidak seperti zaman orde baru. Orde baru perwira maju, sudah selesai semua, sekarang biasa saja, kalau dilihat secara umum.” 

Beberapa jenderal yang dikabarkan akan maju dalam Pilkada Serentak  2018 antara lain Kepala Korps Brimob Polri, Inspektur Jenderal Murad Ismail di Pilkada Provinsi Maluku, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Inspektur Jenderal Safaruddin, yang akan maju sebagai Calon Gubernur Kalimantan Timur, Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Inspektur Jenderal Anton Charliyan untuk pemilihan Gubernur Jawa Barat, Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw, yang akan maju dalam pemilihan Gubernur Papua, dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat TNI, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, yang akan ikut dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara.

Kepala Kepolisian Jenderal Tito Karnavian meminta jenderal yang ikut dalam pilkada untuk segera mengundurkan diri lebih awal sebelum penetapan pasangan calon. “Supaya tidak terjadi konflik kepentingan.” Sumber media net.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga menjamin TNI netral meski ada jenderal yang maju. “Netralitas TNI di atas segalanya.” Sumber media net.

Seperti yang kita sama-sama ketahui beberapa bulan belakangan ini, kampanye pemilihan gubernur sedang marak-maraknya dilakukan. Setiap calon gubernur beserta partai politiknya masing-masing mempunyai cara sendiri untuk "mempromosikan" diri agar kelak dipilih oleh rakyat.

Gubernur adalah pemimpin rakyat dan mengatur segala hal berkaitan dengan daerah yang dipimpinnya. Karenanya sebagai rakyat Anda perlu dengan cermat dan objektif memilih pemimpin yang dapat membawa rakyat daerah ke arah yang lebih baik. Namun mencari dan menemukan sosok gubernur 'idaman' bukanlah perkara mudah. Segala macam kampanye, promosi, rencana atau janji-janji dari calon gubernur tidak bisa jadi jaminan calon gubernur tersebut layak dan pantas menjadi pemimpin impian rakyat.

Banyak calon pemimpin yang senang mengumbar janji-janji manis untuk mendapat simpati rakyat, namun seringkali setelah terpilih mereka segera melupakan janji tersebut. Meskipun tidak semua tentu demikian. Oleh sebab itu, sebagai rakyat kita harus pandai, cermat dan bijaksana agar kita tidak salah dalam memilih pemimpin kita.

Setiap orang pasti memiliki kriteria calon gubernur idamannya masing-masing. Bagaimana dengan Anda? Seperti apa sosok gubernur pilihan Anda?

"Yang pasti, ia harus bisa mencintai dan dicintai rakyat. Caranya, ya harus dapat mencuri hati rakyat. Tidak cuma itu, pemimpin tersebut harus benar-benar memedulikan kesejahteraan rakyatnya. Ada beberapa aspek yang harus dimiliki calon gubernur agar dicintai rakyatnya, yang pertama dia harus beriman, tidak memandang keyakinan dan agama yang dianutnya dalam memimpin masyarakat yang penuh keberagaman. Ia juga harus merakyat, artinya meski seorang pemimpin, dia tidak malu dan mudah berbaur dengan rakyat, peduli apa yang dialami oleh rakyat, sederhana meskipun berkelimpahan, tegas namun tetap berhati nurani. Yang terakhir, seorang pemimpin yang jujur dan tentunya akan jauh dari korupsi. Berusaha berkata apa adanya tidak melebih-lebihkan. Mungkin itulah tiga kriteria gubernur impian saya." 

"Gubernur impian rakyat adalah orang yang konsisten terhadap janji kampanye dan praktik kerjanya. Ia dapat mengedepankan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya di atas segalanya. Pemimpin yang baik harus mau menerima segala masukan, kritikan bahkan keluhan-keluhan rakyatnya. Dibutuhkan sosok pemimpin yang dapat membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, kejahatan dan kehidupan yang tidak layak. Tidak perlu banyak iming-iming kosong, kita hanya perlu bukti. Seorang pemimpin harus bisa mempertanggung jawabkan segala perkataannya." 

"Saya mengharapkan agar kelak pemimpin atau gubernur kita adalah sosok yang berakhlak budi pekerti, tegas, jujur terhadap rakyat. Ia juga harus menjadi pribadi jujur terhadap dirinya sendiri, negara dan rakyatnya. Sosok yang berani mengambil keputusan dan bertindak, berani menerima konsekuensi segala perbuatannya, adil, cerdas, berpengetahuan luas, sederhana, terbuka, memiliki kepribadian yang menyenangkan, humoris namun tetap pada batasnya, bijaksana, mempunyai program kerja yang dapat mengubah keadaan rakyat dan lingkungan menjadi baik dan terarah. Terakhir, ia juga memiliki visi memajukan negara dan daerah yang dipimpinnya". 

Itulah kriteria sosok Gebernur pilihan mereka. Bagaimanakah dengan Anda?...Sumber Media Net. BACA : Menjaga-mental-agar-tetap-stabil
5:41 AM No comments
“Vox Populi Vox Dei.” Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, suatu pernyataan yang cukup populer di masa pencerahan (renaesance), ketika rakyat mulai berani menggugat hegemoni penguasa absolut. Pada saat itu, slogan perlawanan ini memang cukup mengena. Sebab yang dihadapi adalah penguasa otoriter yang menyamakan dirinya dengan Tuhan, atau merasa mendapat hak istimewa dari Tuhan untuk menguasai segenap aspek kehidupan manusia.

Dalam perkembangannya, semboyan tersebut, menjadi pupuk perangsang tumbuhnya ide-ide demokrasi atau paham kedaulatan rakyat. Dewasa ini, kalimat dengan empat kata itu, juga masih kerap terdengar nyaring. Maklum, hingga saat ini, demokrasi masih dianggap konsep terbaik penyelenggaraan kekuasaan negara, dan hampir sebagian besar negara di dunia menyatakan dirinya sebagai negara demokrasi.

Rakyat sebagai pemilik kedaulatan pun naik daun. Aspirasi dan keinginan rakyat menjadi amat bertuah, sehingga jadi obyek buruan para pihak yang berambisi menguasai negara. Dengan dalih “vox populi vox dei,” suara rakyat pun disakralkan karena ia dipahami seakan-akan identik dengan firman Allah. Apalagi ditilik dari perspektif teologis, rakyat dalam terminologi politik merupakan kumpulan manusia, dan makhluk yang disebut manusia senantiasa berada pada kedudukan yang mulia karena diciptakan berdasarkan Citra Allah (Imago Dei) atau pengemban amanat Allah di muka bumi (Khalifatullah).

Berbagai deviasi dan distorsi makna kedaulatan rakyat pun muncul karena pada tataran praksis apa yang disebut “suara rakyat,” ternyata tidak lahir karena tuntunan akal sehat, ketulusan hati, kemurnian nurani, serta pertanggungjawaban kepada Sang Illahi, tapi karena gelimang selingkuh politik uang, kekerasan intimidasi, kelihaian pembohongan, atau nafsu memangsa manusia lain atas dorongan naluri “homo homini lupus.” Mencari makna hakiki vox populi vox dei dalam ruang realitas kehidupan cenderung semakin sulit karena dalam konteks kekuasaan negara ia hanya tercermin dalam bentuk tumpukan angka yang kemudian diperhadapkan dalam konfigurasi mayoritas dan minoritas.

Lantas, jika “suara mayoritas” dikukuhkan menjadi “vox dei,” lalu suara minoritas suara siapa ?. Demikian pertanyaan menggumpal dalam benak awam yang selalu dituntut agar setia kepada rumus-rumus matematika demokrasi. Pada titik inilah, alur logika kerap menemui tonggak kebuntuan, sehingga fokus pertanyaan kembali pada titik awal yakni, hakekat dari makhluk yang disebut “rakyat” itu sendiri.

Bila berpangkal tolak pada terminologi politik bahwa rakyat adalah kumpulan manusia, maka tentu arah sorotan pun pada akhirnya tertuju kepada manusia. Dengan kata lain, apakah jatidiri manusia sebagai imago dei adalah identifikasi yang bersifat permanen, atau sewaktu-waktu dapat berubah menjadi sosok kebalikannya.
Perdebatan panjang tentu tak terhindarkan karena dengan pendekatan biologis saja, pasti sulit membongkar anatomi kesejatian manusia yang penuh misteri. Karena itu –setelah melewati pergumulan pikiran yang intens– berbagai pakar akhirnya menyimpulkan bahwa: Manusia adalah makhluk tiga dimensi. Ia terdiri dari dimensi jasmani, atau disebut fisik, atau ragawi dimensi jiwa atau spirit atau rohani, dan terakhir yang menjadi inti kesejatian manusia adalah dimensi nurani, yang sejatinya adalah tempat bersemayam “Roh Allah” atau “Nur Illahi (Terang Allah).”

Eksistensi manusia sebagai makhluk tridimensi, sebenarnya dengan jelas dan gamblang dijelaskan dalam Al-Kitab. Bahkan dalam Roma 8 ayat 1-30, ditegaskan keharusan bagi manusia memelihara kesejatian dirinya sebagai imago dei yang hidup dalam tuntutan “Terang Allah” atau “Roh Penghibur.”

Pemahaman akan makna hakiki manusia dalam tiga dimensi tersebut tentu perlu, agar manusia dalam kehidupannya selalu sadar akan keberadaannya sebagai “Bait Allah” yang harus dijaga kesuciannya. Selain itu, dengan kesadaran itu pula manusia niscaya dapat memahami akar dari berbagai penyebab distorsi, dan deviasi dalam kehidupan keseharian.

Bila manusia dalam dimensi jasmani kerap terganggu kesehatannya karena cacat jasmani atau karena mengidap sakit jasmani, maka manusia dalam dimensi rohani dan nurani pun bisa mengalami hal yang sama. Cacat atau sakit rohani dan nurani inilah yang kerap mewabah di luar kesadaran manusia itu sendiri. Bahkan dapat berjangkit secara kolektif pada satu komunitas masyarakat dan bangsa.

Boleh jadi karena sakit rohani dan nurani itulah, terjadi anomali dalam formulasi dari “suara rakyat, suara Tuhan,” sehingga hasil yang diperoleh justru kebalikannya. Sebagai bangsa, Indonesia bukan sekali dua kali mengalami hal ini. Adalah kenyataan, sudah beberapa kali Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Umum untuk memberikan tempat terhormat bagi “suara rakyat (karena dianggap identik dengan “suara Tuhan”),” namun setiap kali itu pula yang muncul dipermukaan justru para koruptor, pelanggar hak asasi manusia, pencoleng uang rakyat, dan sebagainya.

Dalam keadaan seperti ini, maka makna “vox populi vox dei” layak untuk dipertanyakan. Mungkin saja, slogan yang terdengar amat mulia ini tinggal pepesan kosong, karena rakyat yang didengar suaranya itu lebih dalam jumlah dominan adalah mereka yang mengidap cacat rohani dan kekelaman nurani. Dan jika demikian halnya, maka satu-satunya cara pemulihannya adalah kembali ke jalan Allah, agar Roh Kudus, Terang Dunia, Cahaya Illahi kembali bersemayam dalam diri manusia Indonesia. Al Kitab telah memberikan kesaksian bagi kita, bahwa dengan Yesus Anak Allah dengan mudah menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani manusia (Matius Pasal 8 dan 9), dan kuasa Roh Kudus dapat mengubah kekelaman nurani Saulus yang dengan nama Paulus ia bertobat, bahkan mengabdikan hidupnya bagi pewartaan Injil keberbagai pelosok.

Tentu hanya mereka yang memiliki kesehatan jasmani, rohani dan nurani yang dapat menyatakan “vox populi, vox dei, ” mereka yang dapat menyatakan suaranya sesuai hati nuraninya, tak tergiur oleh iming-iming politik uang, tak goyah menghadapi intimidasi dan tekanan, karena ia yakin Allah senantiasa bersamanya dalam segala hal. Jika benar Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, lalu buat apa Tuhan mengutus Nabi-Nabi untuk menyuarakan Pesan Illahi.

Top of Form
Bottom of Form
“Kenali Diri Sendiri, Kenali Lawan; Maka Kemenangan Sudah Pasti Ada di Tangan! Kenali Medan Pertempuran, Kenali Iklim;  Maka Kemenangan Akan Sempurna! (Sun Tzu)”.


Menuju pemenangan Pemilukada serentak 2018 bukanlah hal yang mudah dan sederhana, disebabkan banyaknya tahapan yang harus diikuti dan dilalui, serta Bakal Pasangan Calon (PASLON) sebagai Partai atau Relawan peserta pemilu harus mampu mendorong para Kandidat paslon menuju kemenangan. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka perlu adanya sebuah proses yang tepat melalui sejumlah langkah-langkah dan pertimbangan-pertimbangan strategis yang diambil dalam upaya pemenangan paslon di Pemilukada Indonesia serentak 2018 mendatang, antara lain:
1.    Penyusunan perencanaan (Grand Design Planning)
Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan hasil perencanaan yang utuh terhadap sumberdaya organisasi atau Partai atau Relawan, mensinergikan semua rangkaian program yang telah, sedang, dan yang akan dilakukan. Mengukur target pencapaian strategi, mengarahkan sumberdaya, dan pencapaian hasil yang rasional dan terarah. Outputnya adalah Blue Print Pemenangan 2018.

2. Membangun Human Resource, Support System, penyiapan sarana prasarana dan infrastruktur penunjang.
Langkah ini merupakan persiapan awal yang menghimpun semua kekuatan sumber daya manusia potensial dan kompeten, bisa dalam bentuk tim sukses, tim inti, tim pendukung, tim penunjang, tim bayangan, atau tim pemelihara. Terkait dengan support system dapat berupa sistem yang berbasiskan teknologi informasi, sistem manajemen pemenangan, manajemen think tank, manajemen kampanye dan manajemen koordinasi jaringan. Dan dilanjutkan dengan penyiapan seluruh potensi dalam bentuk sarana prasarana serta infrastruktur lainnya dalam bentuk pengadaan Kesekretariatan (Base Camp), mobilisasi dan alat-alat penunjang lainnya. Outputnya adalah Deklarasi Tim Pemenangan Indonesia 2018.

3.    Melakukan analisis lingkungan eksternal dan internal (Environmental Scanning)
Langkah ini harus dilakukan untuk mengukur semua potensi atau kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Partai atau Relawan, agar dapat menghasilkan sebuah keputusan-keputusan strategis yang baik dan terarah. Berbagai keputusan strategis, kebijakan, program, sasaran, target, dan pelaksanaan di lapangan berdasarkan hasil analisis lingkungan yang telah terlebih dahulu dilakukan. Outputnya adalah Analisis SWOT Pemenangan Pemilukada Indonesia 2018.

Langkah ini dilanjutkan dengan melakukan pemetaan politik guna menunjang pencapaian tujuan dalam Pemenangan Pemilukada 2018, yaitu dengan melakukan survei Pemetaan Perilaku Pemilih, antara lain berupa: Memetakan pemilih berdasarkan demografi dan preferensi politik; Memetakan isu-isu strategis lokal; Memetakan nama-nama yang berpotensi menjadi kawan dan lawan; serta Memetakan media komunikasi yang efektif digunakan oleh pemilih. Outputnya adalah Strategi Mempengaruhi Perilaku Pemilih dalam Pemenangan Pemilukada Indonesia 2018.

Langkah berikutnya adalah masih dalam pemetaan politik, yaitu dengan melakukan survei Pemetaan Jaringan, antara lain berupa: Inventarisir Jaringan yang potensial jadi mesin politik; Memetakan wilayah dari masing-masing jaringan dan Inventarisir Nama-nama yang memiliki potensi menjadi tim sukses. Outputnya adalah Strategi Mobilisasi Tim Pemenangan Pemilukada Indonesia 2018.

Selanjutnya masih dalam pemetaan politik, yaitu dengan melakukan survei Pemetaan Media Massa, antara lain berupa: Inventarisir semua media massa lokal; Menganalisis kecenderungan isi media; Menjajaki kemungkinan kerja sama; dan Analisis media paling efektif. Outputnya adalah Strategi Pencitraan dalam Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018.

Dan terakhir dalam melakukan analisis lingkungan adalah upaya melakukan identifikasi terhadap kearifan lokal melalui survei dan FGD serta Pelatihan , antara lain berupa: Kebiasaan masyarakat lokal, Budaya dan sosial masyarakat lokal, Tingkat pengetahuan masyarakat, Kemampuan Ekonomi rumah tangga masyarakat, Tingkat kebutuhan energi masyarakat, Iklim dan pola pertanian masyarakat, Potensi sumber daya lokal, dan Pemetaan kependudukan lokal. Outputnya adalah Analisa kebutuhan dan potensi masyarakat lokal.

4.    Menyusun dan menetapkan formulasi strategi berbentuk Grand Strategy
Langkah ini adalah sangat penting, setelah penyusunan rencana dan menganalisis semua variable lingkungan, maka akhirnya kita menyusun formulasi strategi yang akan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan atau pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Yang selanjutnya merekomendasikan Strategi Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018 dinamakan “TOUCH STRATEGIC” atau “STRATEGI SENTUH”. Strategi ini sebagai strategi utama (grand strategy) yang mengerahkan semua potensi Partai atau Relawan terhadap pemenangan Pemilukada.

Maksudnya adalah sebuah strategi melalui pendekatan yang lebih diarahkan pada upaya Partai atau Relawan melalui Kandidat paslon  dengan menyentuh langsung pada konstituen atau pemilih simpatisan. Hal ini tentunya sejalan dengan upaya paslon yang ingin dekat dengan para anggota dan simpatisan Partai atau Relawannya, bahkan para pengurus pun tidak memiliki hak istimewa, karena justru memberikan peluang kepada masyarakat untuk merasa dekat dan memiliki Partai atau Relawan secara utuh, terbuka, dekat dan tidak eksklusifisme.
Transaksi yang dilakukan adalah hati ke hati (heart to heart) atau dengan moto 3S (Senyum, Salam, Sapa) yang dapat menyentuh langsung pada hati masyarakat dengan calon yang mewakilinya atau Partai atau Relawannya. Bilamana masyarakat sudah tersentuh hatinya, maka akan dapat mudah untuk berbuat apapun kepada masyarakat, bahkan masyarakat itu sendiri akan merasa memiliki dan memberikan partisipasi aktif terhadap paslon.

Upaya Partai atau Relawan untuk melakukan strategi positioning melalui political marketing yang mereferensi pada pasar (electoral), tentunya diharapkan mampu memberikan pengaruh dan hasil yang signifikan dan keteraturan dalam pelaksanaan atau implementasinya di lapangan.

Apapun strategi implementasinya harus tetap mengacu pada filosofi dasar Partai atau Relawan dan Visi Misi Kandidat yang akan dibangun, sehingga terjadi sinergitas dengan program-program yang telah dilakukan yang pada akhirnya bermuara pada keberhasilan dan keunggulan secara jangka panjang (Sustainable Competitive Advantage/SCA).

Penanggung jawab langsung adalah Kandidat paslon yang secara nyata harus diimplentasikan di semua tingkat Kecamatan, Desa, RT dan RW terintegrasi langsung Tim Pemenangan.

Pendekatan yang dilakukan adalah mengurangi jurang pemisah (gap) antara tujuan Partai atau Relawan dengan keinginan rakyat kepada Partai atau Relawan politik sebagai wadah menampung aspirasi. Identifikasi terhadap konstituen di daerah melalui pendekatan kearifan lokal dan identifikasi kebutuhan masyarakat yang up to date, dirasakan sangat perlu untuk memastikan semua program dan tujuan Partai atau Relawan dapat terarah dan diterima masyarakat. Apabila kebutuhan dan keinginan masyarakat sudah teridentifikasi, maka akan dengan mempermudah penentuan program atau kegiatan Partai atau Relawan diimplementasikan di lapangan, sehingga tingkat partisipasi dan apresiasi masyarakat akan sangat tinggi terhadap paslon.

Batasan dan pertimbangan implementasi strategi, tentunya mengacu pada pencapaian Manifesto Partai atau Relawan, Visi dan Misi Partai atau Relawan serta Program Jangka Pendek yang telah ditetapkan. Strategi Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak tidak akan terlepas pada, kondisi strategis internal Partai atau Relawan dan kemampuan serta kekuatan yang dimiliki Partai atau Relawan saat ini, antara lain: sumberdaya manusia (pengurus dan semua potensi anggota Partai atau Relawan), sumber dan kemampuan pembiayaan (budgeting) yang diatur oleh AD/ART dan Undang-Undang, Sarana Prasana Pendukung lainnya yang sah dimiliki Partai atau Relawan, dan Kapasitas Organisasi.

Subjek dari implementasi strategi ini adalah semua kapasitas Partai, Relawan, organisasi, pengurus, anggota, kader dan partisipan, tim sukses, potensi dan kekuatan organisasi kami, serta potensi dan kekuatan ormas.
Sedangkan objek dari strategi ini adalah seluruh masyarakat yang telah memiliki hak pilih pada Pemilukada Indonesia serentak 2018, masyarakat potensial yaitu yang belum memiliki hak pilih dan akan menjadi pemilik di Pemilu berikutnya, dan elemen masyarakat lainnya yang bermukim di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tagline yang diusung adalah “Pilihanku 1 Nomor 1”, dan selanjutnya diberikan penjelasan “1 Hati, 1 Rasa, 1 Tujuan, 1 Partai atau Relawan… Partai atau Relawan Nomor 1… paslon jadi Pemersatu”.
Outputnya adalah Kemenangan bakal paslon dalam  Pemilukada Indonesia serentak 2018

5.    Menyusun dan menetapkan strategi penunjang dan strategi pengungkit.
Selain strategi utama, ada strategi penunjang dan pengungkit yang sifatnya melengkapi strategi utama yang telah dibangun dan disosialisasikan, yaitu Strategi Tersembunyi (Hide Strategic) dan Strategi Kamip (Wing Strategic).
§        Strategi Tersembunyi (Hide Strategic)

Sebagai strategi dukungan terhadap strategi utama yang dijalankan, yang sifatnya silent dan tidak terlihat, dibentuk oleh Kandidat sebagai tim khusus (task force) dan inteljen yang bersifat rahasia yang hanya diketahui langsung oleh Pimpinan Terbatas dan Ketua Tim sukses.

Strategi ini akan berbeda dengan strategi utama, dilakukan melalui kerja inteljen dan tersembunyi, sifatnya mencari informasi yang dianggap penting oleh pengampu kepentingan dalam upaya menguatkan proses pengambilan keputusan strategis. Task Force ini bernama “helicopter team”, yang melakukan pengintaian terhadap situasi strategis dan kondisional, baik ke dalam maupun ke luar organisasi.

Upaya-upaya yang dilakukan seperti: Operasi Inteljen, Propaganda, Silent Advokasi, Provokasi dan Penggembosan, IT Inteljen, Counter Issue, Data Kekuatan Lawan, Data Kelemahan Lawan, penusupan dan penyamaran, Keghoiban dan Spiritualitas, Identifikasi Budaya dan Kearifan Lokal, serta  Identifikasi Kekuasaan dan Kekuatan lawan dan kawan.
Outputnya adalah Database dan Informasi Inteljen Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018.

§        Strategi Kamip (Wing Strategic)
Strategi ini juga berbeda dengan strategi utama, sebagai strategi dukungan terhadap strategi utama yang dijalankan sifatnya terbuka (open) dan dilakukan oleh semua badan dan Organisasi atau Struktur Kamip paslon dan para simpatisan lainnya, dikoordinasikan Ketua Tim Sukses Partai atau Relawan sebagai pengkayaan dan penunjang semua program yang dijalankan.
Strategi ini diharapkan akan menjadi pengungkit (leverage) bagi keberhasilan semua upaya implementasi strategi di lapangan, menutupi kekurangan dan memberikan masukan serta bantuan strategis guna pencapaian Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018.

Upaya-upaya yang bisa dilakukan seperti: Mobilisasi massa, Membantu Event secara formal dan informal, Membina Jaringan Aktivitis dan kader, Pembekalan dan Pendidikan Kader, Crisis Center, Counter Media, dan Tim Transformer.
Outputnya adalah Team Pendukung untuk Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018 dan dapat sebagai Moral Force, Police Team, atau Event Organizer.

6.    Mengimplementasikan strategi utama dengan strategi turunannya.
Pelaksanaan atau implementasi dari perencanaan, konsep sampai formulasi strategi yang telah ditetapkan sebelumnya menjadi keberhasilan dari sebuah strategi itu sendiri, karena sehebat apapun strategi, tanpa diimplementasikan tidak akan ada gunanya dan maknanya. Pelaksanaan strategi tersebut akan sangat dipengaruhi oleh waktu atau tahapan pelaksanaan pemilu itu sendiri, karena itu ada 3 (tiga) tahapan umum pemilu, yaitu: pra-pemilu, pemilu, dan pasca-pemilu.
Badan Pemenangan Pemilukada bersama tim strategi khusus  tentunya telah menyusun dan menyesuaikan langkah, program dan kebijakannya dengan jadwal pelaksanaan Pemilukada Indonesia serentak 2018. Setelah tahapan perencanaan dilakukan, dilanjutkan dengan analisis lingkungan melalui beberapa survei dan outputnya, lalu dilakukan formulasi dan strategi implementasi. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dilakukan pada tahapan pra-pemilu:

§       Strategi Mempengaruhi Perilaku Pemilih
Tujuan dari strategi ini mendapatkan sejumlah informasi awal untuk melakukan kegiatan kemenangan pemilukada dengan terlebih dahulu memetakan kondisi dan situasi daerah yang pada akhirnya memberikan kemudahan untuk pelaksanaan aksi. Hingga kemudian tim sukses dapat menentukan area atau daerah potensi yang dapat dipengaruhi secara akurat sebagai daerah kemenangan pemilu. Strategi ini akan sangat menentukan dalam melakukan kegiatan atau program kemenangan berikutnya serta jumlah keperluan atau mobilisasi sarana, prasarana, dan akomodasi yang harus dipersiapkan tim sukses.
§       Strategi Mobilisasi
Tujuan dari strategi ini adalah membangun organisasi pemenangan pemilukada yang efektif dan efisien, mendesign kerangka kerja organisasi yang jelas dan terukur, dan menentukan target-target pemenangan dan schedulenya. Implementasi dari strategi ini meliputi:
– Pembangunan jaringan dan organ politik (Design Struktur tim sukses, Pembentukan tim sukses tingkat, Kota, Kabupaten, kecamatan, desa RW dan RT), serta perluasan jaringan sosial.
– Pelatihan manajemen tim sukses (Pemahaman perilaku pemilih, organisasi tim sukses, media kampanye, targeting, penyusunan dan evaluasi program).
– Penyusunan program kemenangan (Design program kunjungan, ceramah, aksi sosial, peresmian, kontrak politik, turnamen, pawai, hiburan, komunikasi tradisional, komunikasi multimedia dan alternatif).
– Pemenuhan persyaratan pencalonan (Dukungan Partai atau Relawan politik, persyaratan administrasi KPU).
– Pembentukan tim kampanye.
– Pembentukan tim saksi.
– Pembentukan tim mobilisator.
§       Strategi Pencitraan
Tujuan dari strategi ini adalah membentuk citra diri Calon Legislatif sesuai dengan visi, misi dan target pemilih, menentukan media komunikasi politik yang efektif, mendesign isi komunikasi politik, serta upaya mempengaruhi isi liputan media massa. Implementasinya meliputi:
– Pembentukan media center (Mengorganisasi program, target dan evaluasi program pencitraan kandidat).
– Taktik komunikasi media cetak, radio, dan TV (Design, contain, timing, volume dan budgeting).
– Taktik komunikasi media out door (Design, isi, timing, volume, budgeting).
– Taktik komunikasi sosial (Design, isi, timing, volume, budgeting).
-Taktik komunikasi tatap muka dan Taktik komunikasi alternatif.
Sebagaimana secara konsep atau teori yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam strategi utama ini terdapat tiga strategi turunannya, strategi ini dapat dilakukan pada tahan pra-pemilu dan pelaksanaan pemilu, yaitu:
§     Pemasaran produk politik secara langsung kepada calon pemilih (push political marketing), strategi ini dapat membangun mesin politik Partai atau Relawan dan  implementasinya meliputi: Pelatihan manajemen tim sukses, Set up jaringan parpol dan birokrasi, Set up jaringan keluarga, Set up jaringan tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, dan jaringan-jaringan lainnya sebagai mesin politik Partai atau Relawan.

Paslon telah melakukan strategi ini melalui pembentukan organisasi atau struktur kamip, merampungkan kepengurusan Tim Partai atau Relawan dari Kabupaten, sampai ke TPS, dan strategi ini dipertajam melalui Pelatihan ToT untuk menciptakan tim sukses yang militan sampai tingkat terbawah.
§  Pemasaran produk politik melalui media massa (pull political marketing), strategi ini merupakan upaya peningkatan popularitas paslon, implementasinya meliputi: Internet, Produksi souvenir, Produksi media komunikasi massa cetak, Produksi media komunikasi massa out door, Produksi iklan media TV, Radio, dan Cetak, serta Kampanye Door to Door.
Paslon telah melakukan strategi ini dengan iklan dan berbagai komunikasi melalui media massa, dan hal ini tentunya akan meningkatkan popularitas paslon.
§   Pemasaran melalui kelompok, tokoh atau organisasi yang berpengaruh (pass political marketing), strategi ini dilakukan untuk mengenalkan pesan-pesan politiknya, hal tersebut dapat dikatakan upaya peningkatan elektabilitas Partai atau Relawan, implementasinya meliputi: Kunjungan langsung terprogram, Kunjungan langsung insindental, Ceramah, Aksi sosial terprogram, Aksi sosial insindental, Peresmian, Kontrak politik, Turnamen, Pawai, Hiburan dan Kesenian, Media komunikasi tradisional, Media komunikasi alternatif, Pencetakan Mesium Rekor Indonesia, dan program kunjungan lainnya.
Paslon telah melakukan strategi ini dengan dilakukannya kunjungan ke daerah-daerah dengan menemui banyak tokoh daerah, dan hal ini tentunya akan meningkatkan elektabilitas Kandidat paslon.
Taktik yang dilakukan dapat melalui pilihan program kunjungan, yaitu:
1.    Program Sosial Program Lingkungan Hidup
2.    Program Bangun Petani dan Kedaulatan Pangan,
3.    Program Kesehatan dan Pengobatan Gratis bagi Manula dan Kalangan Masyarakat Kurang Mampu,
4.    Program Bea Siswa Anak-anak Terlantar dan Yatim Piatu, dan
5.    Membangun masyarakat yang Allaqul Karimah
Upaya Partai atau Relawan untuk menjaga kemenangan pada saat pelaksanaan pemilu perlu dilakukan secara maksimal dan serius, tidak akan ada artinya semua perencanaan, persiapan dan implementasi strategi dilakukan bilamana Partai atau Relawan tidak menjaga dan memelihara proses pemenangan itu dengan baik. Beberapa implementasi dalam upaya menjaga kemenangan dengan melakukan: Pembentukan tim saksi, Survei audit pendaftaran pemilih, dan Pembentukan tim mobilisator. Sampai pelaksanaan pemilihan umum sedang berlangsung pun, usaha strategis terus dilakukan, yaitu: mobilisasi tim saksi dengan tingkat koordinasi yang tinggi dan akurat serta terpercaya, dan melakukan pemantauan dan perhitungan cepat (Quick Count).
Cara atau prosedur untuk program yang akan diimplementasikan di lapangan adalah setelah terlebih dahulu melakukan identifikasi kearifan lokal melalui survei dan FGD serta Pelatihan TOT Dilanjutkan dengan analisa dan implementasi program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemilih di daerah pemilihan masing-masing. Setiap event harus diselenggarakan dengan standar penyelenggaran Event Organizer dengan prinsip efektif, efesien dan monumental. Implementasi di lapangan harus disesuaikan dengan tahapan atau Jadwal Pemilukada Indonesia serentak 2018, sehingga memerlukan manajemen waktu dan alokasi sumberdaya pendukung yang efektif dan efisien.

Alat/tools yang diperlukan semua perangkat lunak dan perangkat keras serta dukungan pelengkap lainnya yang dimiliki oleh paslon, maupun para partisipan lainnya yang sah dan tidak melanggar aturan AD/ART.
Outputnya adalah Strategi Implementasi Pemenangan Pemilukada Indenesia serentak 2018.

7.    Melakukan koordinasi, supervisi, dan kepemimpinan.
Langkah ini merupakan bentuk manajerial dan kepemimpinan dalam mengkoordinasikan, memsupervisi dan mengarahkan seluruh sumber daya yang dimiliki kedalam implementasi strategi agar terjadi sinergi antara strategi utama dengan strategi lainnya. Hal tersebut dapat dilakukan pada saat pra-pemilu, pelaksanaan pemilu, dan pasca-pemilu. Outputnya adalah Pedoman Teknis Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018.

8.    Melakukan evaluasi dan kontrol terhadap semua rangkaian strategi yang sedang dan sudah dijalankan sampai tahap pasca pemilu oleh tim pemelihara untuk mengukur kinerja (performance).
Pada tahapan pasca-Pemilukada Indonesia serentak 2018, diperlukan upaya untuk menjaga dan memelihara program yang telah dilakukan yaitu dengan Strategi Pemeliharaan (Maintenance). Sebagai strategi pasca Pemilukada Indonesia serentak 2018 yang dapat memelihara terhadap semua upaya dan program yang telah dijalankan semasa jelang Pemilu. Hal ini penting untuk menjaga agar seluruh program dapat tetap berjalan dan mensinergikan dengan program-program Partai atau Relawan selanjutnya.

Diharapkan semua konstituen akan percaya dan yakin bahwa Paslon tidak hanya hadir pada saat menjelang Pemilu saja, melainkan tetap menjaga keberlangsungan program untuk pencapaian Sustainable Competitive Advantage paslon. Strategi ini dikoordinasikan langsung oleh Partai dan Relawan melalui Korcam Kordes seluruh Kota dan Kabupaten, sebagai aset dan investasi sosial menjelang Program Besar paslon yaitu Gerakan Perubahan Menuju Kota atau Kabupaten Cerdas Sehat dan Sejahtera dilandasi Iman dan Taqwa.
Kerja yang dapat dilakukan antara lain: Membuat Laporan Kinerja, Mempersiapkan Keberlanjutan Strategi dan Program, Mengkonversi Kinerja Kader Relawan Berprestasi, Kunjungan Khusus, Kegiatan syukuran atas kemenangan dan Menyelenggarakan Puncak Acara syukuran dan penghargaan kepada semua pendukung, sponsor dan tim sukses. 

Outputnya adalah Performance Pemenangan Pemilukada Indonesia serentak 2018. PARA JENDRAL MENGIKUTI PILKADA SERENTAK 2018
4:53 AM No comments
Nasihat Imam Al-Ghazali Tentang Politik Kekuasaan
Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin juz II mengatakan: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan”..

Bagi Imam al-Ghazali, krisis yang menimpa suatu negara dan masyarakat berakar dari kerusakan yang menimpa para ulamanya. Karena itu, reformasi yang dilakukan Sang Imam dimulai dengan memperbaiki para ulama. Selain itu dalam pandangannya, pemimpin negara tidak boleh dipisah dari ulama. Ulama tidak boleh ditinggalkan, sebagaimana agama tidak boleh ditinggalkan oleh negara. Ulama pun harus memberikan kontribusinya dengan nasihat dan peringatan terutama nasihat-nasihat akidah dan adab kepada pemimpin.

Usaha-usaha perbaikan politik yang dilakukan Imam al-Ghazali dengan menerapkan amar ma’ruf nahi munkar kepada ulama sekaligus kepada penguasa. Tahapan usaha yang dilakukan adalah, peringatan, kemudian nasehat. Imam al-Ghazali sangat  berkomitmen terhadap faktor perbaikan dan pembaharuan. Baginya, seorang ulama atau ilmuwan semestinya melakukan reformasi konstruktif untuk kebaikan politik di negara. Mereka tidak boleh diam, karena ini merupakan bentuk dari amar ma’ruf nahi munkar.

Al-Ghazali pun telah menunjukkan dirinya sebagai ulama yang memiliki pemikiran cemerlang,  yang disegani dan diterima oleh para pejabat negara serta para ulama lain pada zamannya. Kepada pemimpin negara, ia memberi nasihat bagaimana cara menjalankan sebuah sistem kenegaraan yang mempertimbangkan adab untuk kemaslahatan bersama dengan pemimpin yang mempunyai integritas tinggi ditopang dengan kekuatan syariah.

Pikiran-pikiran utama Imam al-Ghazali tentang politik dituangkan dalam buku al-Tibr al-Masbuk fi Nasihati al-Muluk. Buku ini adalah kumpulan nasihat yang ditujukan kepada Sultan Muhammad ibn Malik Syak dari dinasti Saljuk. Kandungan utama kumpulan surat-surat nasihat itu dapat dikelompokkan ke dalam dua poin besar. Pertama, Imam al-Ghazali memprioritaskan pada kekuatan akidah tauhid. Kedua,  berisi naihat-nasihat moral, keadilan keutamaan ilmu, dan ulama.

Dalam awal naskah nasihatnya, Imam al-Ghazali memulai dengan kaidah-kaidah Iman. Dalam bab ini, disamping menginginkan sultan tetap loyal pada keimanan yang benar, al-Ghazali mengingatkan sultan bahwa kekuasaan tertinggi di dunia ini adalah al-Khalik (Allah Swt). Dalam hal ini, tampaknya juga secara implisit al-Ghazali memberi peringatan bahwa kekuasaan sultan hanyalah titipan Allah Swt.

Allah memberi amanah kepada Sultan untuk menstabilkan negeri sesuai dengan syariat-Nya. Dalam sub-sub bab Kitabnya, al-Ghazali menulis tentang Ke-Esaan-Nya; tiada satu pun yang menyamai-Nya. Al-Ghazali mengingatkan tentang akhirat dan tugas Nabi Muhammad Saw.

Politik
Meskipun menulis banyak hal pada masalah tasawuf , Imam al-Ghazali tetap masih peduli dengan jalannya kekuasaan. Ia selalu menasehati para penguasa, agar selalu menegakkan kalimah Tauhid. Nasihat Tauhid ini dimaksudkan untuk melindungi pejabat-pejabat negara agar tidak terpengaruh dengan pemikiran Syi’ah Batiniyah yang berkembang pada zaman itu. Kelompok Batiniyah ini terkenal sebagai kelompok sesat sempalan yang radikal.

Nasihat-nasihat imam al-Ghazali itu sangat berpengaruh terhadap kestabilan politik Sultan Saljuk, terutama untuk meredam gerakan Syi’ah Batiniyah. Penguasa Nizam al-Muluk akhirnya menyatakan bahwa Batiniyah adalah kelompok sesat. Menurut Sultan,  tujuan utama gerakan mereka sebenarnya adalah untuk menyingkirkan  Muslim Sunni (baca Abu Hamid al-Ghazali, Fada’ih al-Batiniyah, hal 11).

Selanjutnya di pembahasan berikutnya dalam kitab tersebut, Imam al-Ghazali memulai dengan penjelasan tentang adab dan etika seorang pemimpin.  Yang pertama-tama harus dipahami, menurut Imam al-Ghazali adalah mengetahui hakikat kepemimpinan (al-wilayah) dan bahaya-bahayanya  "jika tidak amanah".

Al-Wilayah (kekuasaan) adalah Kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt, dan apabila seseorang diberi kenikmatan tersebut dalam hidupnya, tetapi tidak mengetahui hakikat nikmat tersebut dan justru sebaliknya ia berbuat dzhalim dengan kekuasaannya serta mengikuti hawa nafsunya. Pemimpin yang demikian, kata Imam al-Ghazali,  telah menempatkan posisinya sebagai musuh Allah Swt.

Jika seseorang telah menempatkan posisinya sebagai musuh Allah Swt sebagaimana tersebut di atas,maka inilah titik bahaya seorang pemimpin. Rasulullah Saw pernah mengingatkan, bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan tiga perkara:
  1. Apabila rakyat meminta / membutuhkan belas kasih, maka sang khalifah wajib          berbagi kasih kepada mereka.                                                                               
  2. Apabila menghukumi mereka maka berbuatlah adil.  
  3. Laksanakan apa yang telah kamu katakan (tidak menyalahi janji)
Dari nasihatnya kepada khalifah terlihat, bahwa negara yang ideal adalah negara yang memiliki orang-orang berbasis Islam yang kuat, sehingga negara diurus dengan parameter syari’ah. Usaha Al-Ghazali menuai hasil yang bagus, keadaan negara stabil, syari’ah diamalkan, dan pemikiran-pemikiran menyimpang tidak dihirau oleh warga negara.

Setelah seorang pemimpin memiliki pemahaman Islam yang kokoh serta mengetahui hakikat kekuasaan, maka hal yang juga penting adalah menghindari sifat takabbur. Karena, menurut al-Ghazali, biasanya setiap pejabat pasti dicoba dengan rasa takabbur.  Takabbur seorang pemimping adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, karena akan mendorong pada perbuatan saling bermusuhan yang tentu menarik pada pertumpahan darah (Al-Tibr al-Masbuk fii Nasihat al-Muluk, hal. 8).

Seorang raja haruslah rela berdekatan dengan rakyatnya, melepas baju kesombongan. Begitu pentingnya memenuhi kebutuhan rakyatnya, Imam Al-Ghazali bahkan berfatwa bahwa mendatangi rakyat untuk memberi sesuap kebutuhannya adalah lebih baik daripada menyibukkan diri beribadah sunnah. Mereka,  rakyat kecil,  adalah lemah, maka harus diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih. Ia juga mengingatkan Sultan agar jangan sekali-kali menerima suap dari rakyatnya dengan meninggalkan syari'at.

Imam Al-Ghazali berpendapat, bahwa pemimpin harus memiliki syarat, diantaranya:  mampu berbuat adil di antara masyarakat (tidak nepotisme). Melindungi rakyat dari kerusakan dan kriminalitas, dan tidak dzhalim (tirani). Selain itu, seorang pemimpin harus memiliki integritas, penguasaan dalam bidang ilmu negara dan agama, sehingga dalam menentukan kebijakan ia bisa berijtihad dengan benar. Sehat zhahir dan batinnya, pemberani, memiliki keahlian siasat perang, dan kemampuan intelektual untuk mengatur kemaslahatan rakyat.

Ada dua hal penting yang ditekankan oleh Imam al-Ghazali dalam nasihat-nasihatnya, yaitu penguatan akidah dan adab. Dua hal ini tampaknya bagi Al-Ghazali merupakan faktor utama menjadi hamba Allah Swt yang sejati. Dengan istilah lain basicfaith yang ingin dikokohkan kepada para pejabat negara adalah merupakan pandangan dasar tentang iman. Karena asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilihat pada pandangan hidupnya. Seorang khalifah yang memiliki pandangan hidup Islam yang kokoh, maka semua kebijakannya tak terlepas dari pola fikir Islam.

Sedangkan adab menjadi penting karena manusia yang beradab (Insan adabi) adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah Swt dan memahami serta menunaikan keadilan terhadap diri dan orang lain dalam masyarakatnya. Serta terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan manusia. Pemikiran itu lahir dikarenakan tantangan besar yang dihadapai Imam Al-Ghazali pada masa itu. Tantangan perang pemikiran dan degradasi moral. Maka perbaikannya pun dengan menawarkan konsep adab dan menjawab tantangan pemikiran Syi’ah Batiniyah.

Dan akhirnya, Imam al-Ghazali  dalam teori kenegaraannya  mengutamakan perpaduan moral dengan kekuasaan. Negara dan pemerintahan dipimpin oleh manusia biasa, akan tetapi harus memiliki moral yang baik. Demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara universal, kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka ia memandang, agama dan negara tidak bisa dipisahkan;  agama adalah pondasi, sedangkan pemerintahan adalah penjaga. SUARA RAKYAT ADALAH SUARA TUHAN
5:51 AM No comments
Zun Nun Al Mishri pernah memasuki Masjidil Haram. Dia melihat seorang pemuda telanjang, terbuang dan terletak dibawah sebuah tiang karena sakit. Pemuda itu merintih pilu. Lalu Zun Nun menghampiri memberi salam. Wahai anak muda siapa engkau? ...Dia menjawab, aku adalah pengembara yang sedang rindu. Zun Nun paham apa yang dikatakan pemuda itu. Maka Zun Nun pun berkata, sesungguhnya aku pun orang sepertimu. Dia menangis. Zun Nun pun ikut menangis. Dia bertanya, apakah engkau juga menangis? Zun Nun menjawab, aku juga sepertimu. Dia menangis lagi dengan suara sangat keras seakan-akan histeris. Dan pada saat itu juga nyawanya keluar dari badannya. Ia telah mati.

Zun Nun melepaskan sebagian pakaiannya untuk menutupi jasad pemuda itu. Lalu keluar masjid untuk mencari kain kafan. Ketika kembali, Zun Nun tidak menemukan jasad pemuda tersebut. Zun Nun bergumam, subhannallah. Hati Zun Nun yang peka dan tajam mendengar bisikan, wahai Zun Nun sesungguhnya pengembara itu adalah orang dicari-cari oleh setan tetapi dia tidak dapat melihatnya. Dia juga dicari-cari malaikat Malik tetapi juga tidak diketemukannya. Dia juga dicari malaikat Ridhwan tetapi juga tidak diketemukannya. Zun Nun berkata dalam hati ! Ditempat yang disenanginya yaitu disisi Tuhan yang berkuasa. (Disebutkan dalam kitab Zahrur Riyadh).

Begitulah orang-orang yang mempunyai rasa cinta yang hakiki kepada Tuhannya. Cinta mereka mampu menembus hijab antara dirinya dengan "Yang dicintai". Tentang orang yang memiliki cinta hakiki, Al Masyayikh berpendapat, sedikit bergaul dengan orang lain, banyak menyendiri, Istiqomah dalam bertafakur, dan keadaan lahiriahnya diam. Dia tidak melihat jika dipandang, tidak menyahut jika dipanggil. Tidak paham jika diajak bicara, tidak bersedih hati jika terkena musibah. Ketika dia ditimpa kelaparan, dia tidak mengerti. Jika telanjang dia tidak menyadari telanjangnya. Dia selalu memandang Allah SWT, dalam kesendiriannya, merasa tenteram dengaNya dan berbisik kepadaNya. Dan dia tidak akan ikut berebut dengan orang-orang ahli dunia didalam hal dunia mereka. NASEHAT IMAM Al Ghozali Tentang Politik
6:49 AM No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

BING (31) GOOGLE (15) YAHOO (21) YANDEX (60)

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (75)
    • ▼  April (7)
      • MENGATUR TUGAS SALES UNTUK MENCAPAI TARGET MAKSIMAL
      • UPGRADE PENGETAHUAN BISINIS DENGAN COACHING
      • KIAT SUKSES MEMBANGUN NETWORK BISNIS
      • RAHASIA MEMAKSIMALKAN WAKTU ANDA SAAT INI
      • TRIK MEMBUAT SUASANA KERJA LEBIH NYAMAN
      • MENGAPA GOSIP DIKANTOR MEMBUNUH PRODUKTIVITAS
      • EMPAT HAL SEBENARNYA YANG DIINGINKAN PELANGGAN
    • ►  March (31)
    • ►  February (24)
    • ►  January (13)
  • ►  2017 (44)
    • ►  October (1)
    • ►  September (3)
    • ►  August (9)
    • ►  July (25)
    • ►  June (6)
  • ►  2009 (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2007 (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (3)

Popular Posts

  • HALAL BIHALAL PDAM KOTA PONTIANAK
    PDAM Kota Pontianak melaksanakan halal bihalal sabtu tanggal 27 Oktober 2007 dihalaman Surau Almutahhroh kantor PDAM dihadiri seluruh jajara...
  • LIMA CARA MENGATASI PRILAKU DAN KINERJA MENURUN
    5 Cara Mengatasi Karyawan Yang Malas, Bandel, dan Sulit Diatur – Salah satu hal yang paling penting dalam sebuah perusahaan adalah tenaga k...
  • MENGAPA GOSIP DIKANTOR MEMBUNUH PRODUKTIVITAS
    Mengapa Gosip di Kantor Membunuh Produktivitas? Bermula dari satu hal, satu orang ke orang lainnya lambat laun sebuah infomasi terus bertamb...
  • PDAM KOTA DIKUNJUNGI LEGISLATIF
    PDAM Kota Pontianak kedatangan tamu Legislatif Banjarmasin Kamis 25 Oktober 2007, Study Banding DPRD Propinsi Banjaramasin ke PDAM Kota Pont...
  • MEMELIHARA JARINGAN MENINGKATKAN PEFORMA DIRI
    Terbuka dan Memelihara Jaringan Memperluas dan Memelihara Personal Network Membuat kesuksesan dalam karier tidak hanya membutuhkan pengalama...
  • MARKETING ADALAH SUATU PROSES ATAU CARA MEMASARKAN PRODUK
    Keuntungan suatu bisnis bergantung pada kegiatan pemasarannya. Proses pemasaran biasa disebut dengan istilah marketing. Pengertian marketing...
  • DELAPAN UNSUR UNSUR PENILAIAN PEKERJAAN
    Anda perlu meningkatkan etos kerja sehingga dapat memiliki mental juara. Berkaitan dengan ini, anda perlu mengetahui ukuran atau standar per...
  • TRAINING LEADERSHIP BISA MENINGKATKAN MOTIVASI KARYAWAN
    Training Leadership bisa Meningkatkan Motivasi Karyawan Menjalankan sebuah bisnis atau perusahaan pasti akan membutuhkan kader-kader pemimpi...
  • MENJAGA INTERGRITAS DIRI DISETIAP SITUASI
    Ada sebuah kisah menarik yang mugkin pernah anda jumpai di lingkungan sekitar. Suatu hari, ada seorang ibu yang membeli makanan ringan di mi...
  • UPAYA DAN MENJAGA SELF DISCIPLINE
    Disiplin merupakan pendewasaan dimana seseorang dituntut untuk bisa berfikir logis, menyelesaikan masalahnya dengan baik, serta tidak selalu...

Channels

BING (31) GOOGLE (15) YAHOO (21) YANDEX (60)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates